Oleh: neozam | April 6, 2008

LAUT TAK BEROMBAK

Aku duduk dengan dengkul terlipat menyentuh dagu dan tangan memeluk kedua kaki sambil memandang pantai dengan ombaknya yang saling berkejaran. Kedingininan karena gerimis mewarnai pagi itu. Hanya diselimuti selapis sarung lusuh milik ibu yang melilit tubuh mungilku. Umurku baru dua tahun setengah dan tak bisa banyak membantu ibu. Kakakku lah yang dengan setia membantu ibu menyiapkan warung ‘butut’nya dan mengelap meja dan kursi yang terkena rembesan gerimis sejak subuh. Aku lihat beberapa pasang muda-mudi sudah sedari pagi – jauh sebelum kami – duduk di warung kami.  Pandanganku terfokus pada sepasang muda-mudi yang kelihatan lain daripada yang lain. Mereka diam, memandangi laut lepas dengan sejuta pengharapan. Mungkin harapan-harapan yang jauh lebih besar dari sekedar menjalani hidup bersama. Aku tahu mereka sudah menjadi suami-istri. Sikap mereka lah yang membuat aku yakin itu. Mereka bukan seperti anak-anak yang sedang dimabuk cinta seperti beberapa pasang muda-mudi yang kulihat mesranya melebihi suami-istri.

Aku masih duduk di bawah terpal warung yang sudah bolong-bolong karena termakan usia. Ibuku sesekali memperbaiki lilitan selimutku, khawatir kalau-kalau aku kedinginan walaupun sebenarnya aku sudah kedinginan. Angin laut menerpa kencang. Ombak pun riang berkejaran. Aku pun berpikir, dari mana datangnya ombak? kenapa ombaknya tidak putus-putusnya menyapa pantai? …… Yaaaaaa………. Pasti karena angin. Jadi, kalau laut tanpa ombak, berarti angin sudah berhenti bekerja. Kalau angin berhenti bekerja, lalu manusia bernafas? Subhanallah! Berarti semua aktivitas kehidupan ini saling berkaitan. Laut, ombak, angin, dan manusia, semua saling memerlukan.

Aku masih memperhatikan pasangan suami-istri yang diam memandang ombak tadi. Rupanya mereka sedang menyusun bagaimana rencana mengatur hidup. Bicara mereka pelan seakan rencana-rencana yang disusun hanya setengah matang dan tak boleh didengar walau hanya oleh angin laut.

“Umur kanda sudah 29 dan dinda 28, sekarang sudah tahun 2008. Menikah sudah 3 tahun dan belum dikaruniai anak. Kita harus punya target. Pertama, harus punya rumah sendiri agar tidak menyusahkan orang tua, tahun 2011 paling lama. Kalau numpang terus, kapan bisa mandiri. Kedua, punya mobil tahun 2013, ini kalau bisa sih. Soalnya kalau keluarga datang dari jauh, enak ngajak jalan-jalan keliling kota. Mudah-mudahan niat ini bukan ria, pamer ke keluarga bahwa kita kaya. Tidak. Hanya sebagai sarana memudahkan silaturrahmi keluarga. Ketiga, HARUS bisa naik haji di tahun 2020, Insya Allah. Kalau hati kita mantap, Allah pasti akan meluluskan hajat kita. Orang banyak beranggapan naik haji itu ‘kalau mampu’. Kalau berpatokan ‘kalau mampu’ kapan kita benar-benar berniat ‘pasti mampu’ dengan izin-Nya. Seakan-akan ibadah haji disepelekan begitu saja. “Kalau tidak bisa yaa sudah!” Tidak. Kita jangan berpikiran seperti itu. Naik haji harus bisa. Dengan izin Allah. Dia maha mendengar. Kalau hati kita mantap, Insya Allah bisa. Berarti kita masih kuat menunaikan ibadah haji ini, karena umur kanda 40 dan dinda 39. Pas! Dan Keempat, kita harus punya tabungan pensiun. Jadi, kalau sudah pensiun kita bisa nikmati hidup tanpa membebani anak-anak kita. Amin!”, kata sang suami.

“Rencana punya anak, kapan?” kata istrinya.

“Itu biar Allah saja yang rencanakan, kapan Dia bisa memberikan amanah kepada kita, yang penting kita selalu berusaha dan siap andai diamanahi oleh-Nya”, kata sang suami yakin.

Istrinya mengiyakan namun ada sedikit keraguan dari anggukan. Benar-benar rencana yang sempurna sebagai seorang manusia yang berusaha menyeimbangkan dunia dengan alam sana.

(Mudah-mudahan bisa menyambung cerita ini, Insya Allah!)


Responses

  1. bagus!! cuman kurang banyak, sambung lagi yaaa…. Semangat!!!!

  2. Hiks, jadi inget perencanaan2 yg dibikin sama saya dan suami😦

    =========================
    neozam:
    O,yaaa….? sama donk….!!!! moga bisa saya lanjutin ceritanya….

  3. Aq pnah merasakn posi2 muda/i tu,,
    Tapi,,,,,,,,
    Kini smua tinggal mimpi,harapan2 itu,rencana2 itu,smua hilang smua sirna brsm bjalana waktu,,,,
    Dia kekasih qu….itu dulu.
    Dia belahan jiwa qu….itu dulu.
    Pantai itu saksi bisu qt brdua,dsaat qt tertawa,menangis,terharu,krna cinta qt harus berakhir krna jarak dan waktu…..

    Slm syg quw buat dia yg tah dmn kini…..

  4. Rencana laksana pondasi bangunan tinggal bagaimana kita merealisasikan rencana tsbt.Agar bangunan kuat&Indah Kita harus punya perencanaan matang,dan yg paling penting “tindakan/action”.

  5. Kita Cuma punya rencana, Dia pula yang menentukan.
    Pertanyaannya, kalau kita tidak berencana, apakah Dia punya ketentuan ?
    Salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: