Oleh: neozam | Maret 26, 2008

Untuk Apa Kita Berbuat?

Ada satu cerita berbunyi begini,semalam kawan saya dan istrinya mengundang beberapa orang untuk makan malam di rumah. Istrinya pun sejak pagi sudah mempersiapkan segala masakannya. Ketika semua tamu sudah datang, istrinya menyuruh anaknya yang berusia enam tahun untuk membaca doa sebelum makan.

“Afiq, kamu pimpin baca doa ya.”
“Tapi Mak, doanya bagaimana?” Tanya Afiq.
“Katakan saja apa-apa yang biasa ibu katakana,” kata istri saya.

Afiq segera menadah tangan dan berkata, “Ya Tuhanku, kenapa kami harus mengundang orang-orang ini makan malam.”

Kita tidak perlu berbuat apabila tidak ingin untuk berbuat. Tidak perlu berpura-pura untuk mengambil hati. Risikonya berat, marah, dan hilang keikhlasan. Lebih baik kelihatan seperti orang pelit tetapi hatinya baik daripada Nampak pemurah tetapi hatinya merana.

Kehidupan kini selalu menyaksikan jamuan makan-makan diadakan dalam berbagai acara. Makan-makan sudah jadi trend di kantor, bahkan di mana-mana saja. Yang membuatnya melakukan karena takut dikatakan tidak prihatin. Manakala yang diundang pun berusaha hadir karena takut dikatakan tidak peduli.

Tanpa menafikan kejujuran dan keikhlasan, apa yang dipaparkan di atas bukanlah sesuatu yang mustahil. Memang ada orang buat undangan supaya orang datang dan masuk ke dalam rumah dan memuji-muji cantik rumahnya, mahalnya barang-barang perhiasan dan kayanya si tuan rumah, sedangkan acara makan-makan sekedar alas an untuk menarik orang datang.

Ada juga seseorang yang asyik menuding ke atas tatkala bercerita, sebenarnya ingin menunjukkan jam tangan mahal yang baru dibelinya. Seorang yang menawarkan diri hendak mengantar seseorang sebenarnya hendak menunjukkan bahwa dia sudah punya mobil baru.

Pelbagai taktik dilakukan oleh manusia untuk mengelabui mata manusia. Dengan pelbagai alas an untuk menyembunyikan maksud sebenarnya, semuanya lebih diketahui oleh Allah swt.

Firman Allah swt, “Mereka coba menyembunyikan (keburukan) daripada manusia, tetapi mereka tidak mampu (berlindung) daripada (pengetahuan) Allah swt” (An-Nisa: 108)

Kadang-kadang apa yang dilakukan bisa dibaca maksudnya tanpa perlu memikirnya. Betulkan syukuran untuk kesyukuran atau hendak memberitahukan bahwa anaknya sudah masuk universitas dengan megah dan bangganya? Betulkah ajak kawan-kawan makan karena ikhlas atau sebenarnya hendak tunjukkan banyak duit walaupun pada akhir bulan? Betulkan ganti mobil selalu sebab benar-benar mampu atau sedang perang persaingan kekayaan?

Seharusnya merasa malu dengan muslihat sendiri yang diada-adakan. Sesuatu perbuatan baik yang dilakukan atas maksud riya dan pamer, tiada nilainya di sisi Allah swt., Rasulullah saw. bersabda, “Malu dan amanah ialah perkara yang mula-mula sekali hilang dari duani ini, oleh sebab itu mintalah kepada Allah swt. demi kedua-duanya.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: