Puisi ini sebagai balasan atas tulisan dari Saungbunda: Teruntuk Laki-laki yang Menikahiku…
Tersentak kusadar dari liarnya pandangan
menyeruak istigfar terucapkan
dari hati yang banyak kesalahan
pernah terpikir tuk punya rusuknya
menggelayat menyusup dalam aliran dosa
padahal aku sudah punya dia
wahai tulang rusukku….
maafkan aku tak bisa jaga jiwamu
tak sekuat harapmu
tapi izinkan aku mengibaskan aliran-aliran liarnya pandangku dulu
agar kutetap di sampingmu
menjaga hatimu
sekuat harapmu
Waaaaaaaaaah… keren banget puisinya.. hebat2.. ajarin ridu donk..
ridu suka tuh dengan istilah “tulang rusuk”
===============================================
Neozam:
Terima kasih atas pujiannya, namun kritikkan akan lebih baik. Tulang rusuk, istilah itu aku dapat dari blognya mutiatun untuk membalas salah satu tulisannya
Oleh: ridu on Maret 30, 2008
at 4:21 am
Numpang tidur baca-baca ya
====================================
neozam:
Monggo maaasss, silakan tidur-tiduran di blog saya…. terima kasih udah mampir…. salam buat kluarga
Oleh: azmiel on Maret 30, 2008
at 10:25 am
maka tidak ada kata yang indah
selain menjaga pandangan
adalah eye shadow bulu mataku…..
==================================
Neozam:
iya, makasih peringatannya…. menjaga pandangan adalah langkah awal untuk menjaga keutuhan cinta pada “tulang rusukku”. heheh….
Thanks sekali lagi
Oleh: mutiatun on Maret 31, 2008
at 9:29 am
Makasih lho Pak Neo… saya jadi di-link
*agak malu juga, karena kata2 itu kan bukan ciptaan saya*
========================================
neozam:
makasih udah datang lagi yaa…. moga betah di sini…
Oleh: Menik on April 2, 2008
at 9:46 am